Anak-anak berkreasi dengan warna-warni pilihan mereka

Lomba mewarnai dalam rangka HUT MUBA ke-56 dan MUBA EXPO 2012 (sebuah catatan)

FacebookTwitterGoogle+Share

Mewarnai gambar tentu mengasyikkan bagi anak-anak seusia TK. Mereka dapat mengkreasi sekaligus mengekspresikan ide dan emosi mereka sambil bermain, melalui goresan warna-warni pada selembar kertas bergambar.

Memilih dan menggoreskan warna merupakan petualangan bagi mereka, banyak hal baru yang akan mereka dapatkan dan itu merupakan pengalaman batin yang tak terbayar oleh uang. Namun disisi lain, kegiatan mewarnai terkadang menjadi beban dan menyiksa  bagi sebagian anak-anak apabila ego dan ambisi orang tua turut campur dalam wilayah ekspresi mereka, dan hal itu sering terjadi dalam berbagai peristiwa “lomba mewarnai” yang saya amati.

Sebagai salah satu contoh adalah kegiatan “Lomba Mewarnai Tingkat PAUD, TK dan SD dalam rangka HUT MUBA ke – 56 dan MUBA EXPO 2012″ di Kota Sekayu yang belum lama ini berlangsung (hari Selasa, 02 Oktober 2012), dimana saya turut terlibat menjadi salah satu jurinya. Ada beberapa catatan yang saya dapatkan melalui pengamatan saya selama lomba berlangsung, antara lain sebagai berikut :

1. Kegiatan lomba diikuti lebih dari 400 peserta. Cukup banyak. Sampai-sampai panitia agak kewalahan menempatkan peserta yang banyak itu.

2. Lomba yang dilakukan di ruang terbuka tersebut, dengan peserta yang cukup banyak saya pikir memerkukan sarana berupa tenda yang memadai mengingat pesertanya anak-anak, sehingga proses berkreasi anak tidak terganggu oleh panas dan terik matahari.

3. Kesadaran dan pemahaman orang tua dan guru pendamping untuk membiarkan putra-putrinya berlomba dengan fair menjadi salah satu yang menjadi catatan penting. Yang terjadi saat lomba berlangsung, ada sebagian orang tua maupun guru pendamping merasa kurang dan tidak percaya dengan kemampuan anak-anaknya, sehingga mereka merasa perlu turun tangan dalam lomba dengan cara memberi instruksi yang agak memaksa, bahkan yang lebih parah mereka turun tangan secara langsung dengan membantu secara fisik. Kejadian itu tentu sangat merugikan anak, kegiatan yang seharusnya menyenangkan dan menggembirakan hati, berubah menjadi beban berat bagi mereka, karena harus menuruti kata orang tua atau guru mereka yang terkadang tidak sesuai dengan kehendak hati. Tidak jarang, anak terkadang berontak dengan mogok atau menangis karena terlalu dipaksa menuruti kemauan orang tuanya. Menurut hemat saya, biarkanlah anak-anak berkreasi sesuai hati dan pikiran mereka, itulah dunia mereka, dunia yang terkadang aneh, liar, bahkan tidak wajar bagi “kacamata” orang dewasa. Menang atau kalah dalam lomba menurut saya bukan tujuan utama, lomba hanyalah salah satu sarana anak untuk belajar banyak hal yang lebih penting dari sekedar sebuah predikat juara, misalnya keberanian, kejujuran, kreatifitas, sosialisasi dan banyak lagi.

Saya rasa itulah secuil catatan yang saya dapat dari kegiatan lomba mewarnai tersebut. Sengaja catatan mengenai peran orang tua dalam kegiatan lomba semacam itu saya tekankan, karena ada sebagian orang tua yang rasa-rasanya belum paham dengan hakikat kegiatan itu.

Ke depan, kegiatan ini perlu di tingkatkan lagi, baik dari segi kualitas maupun kuantitas karena kegiatan ini penting dan perlu bagi anak-anak untuk menambah pengalaman dan wawasan mereka.

Berikut ini sekelumit rekaman peristiwa lomba mewarnai dalam rangka HUT MUBA ke – 56 dan MUBA EXPO 2012 tersebut :

Tampak Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Musi Banyuasin yang diwakili Sekretaris Dinas Bapak Drs. Pirhan, M.Si. memberi sambutan sekaligus membuka lomba.

 

 

 

 

 

 

 

Antusiasnya guru dan orang tua dalam mensuport putra-putri mereka

 

 

 

 

 

 

 

Anak-anak berkreasi dengan warna-warni pilihan mereka

 

 

 

 

 

 

 

Tampak dua juri dalam kegiatan penilaian / penjurian yang dilakukan di aula kantor Dinas Pendidikan Kab. MUBA

ADD YOUR COMMENT